sosmed effect

Oleh : Juanmartin (Aktivis Gerakan Muslimah Negarawan)

Sebelum media sosial populer seperti hari ini, media massa lah yang menjadi pusat pemberitaan opini publik. Namun kini, Media sosial telah mampu menerobos kebekuan media mainstream. Berbeda dengan media massa yang bersifat many to many, media sosial justru bersifat one to many. Dalam konteks komunikasi pemasaran, baik media massa maupun media sosial, keduanya adalah medium tepat untuk melakukan word of mouth,  tempat konsumen merekomendasikan atau menceritakan suatu produk/pemikiran. Dengan sifat komunikasi many to many, penceritaan orang ketiga tentang sesuatu (misal pemikiran) dalam media sosial, memiliki daya dorong yang kuat untuk melambungkan pemikiran tersebut. Jika satu produk pemikiran dilambungkan oleh netizen, disitulah letak kekuatannya untuk mampu menaikan jumlah percakapan mengenai satu topik hingga menjadi trending topic. Tak pelak, kini media sosial berperan sebagai influencer baru bagi masyarakat. Saling berjejaring hingga berefek viral.

Menurut Yuswohady, pola ini memiliki kekuatan menjual seribu bahkan sejuta kali lebih hebat dibanding ocehan salesman. Kini, dengan karakteristik distribusi otomatis dan jejaringnya, dengan sendirinya percakapan-percakapan popular akan ramai dibicarakan di media sosial. Saling berjejaringnya pertemanan, dari teman ke teman, dari temannya teman ke teman, yang membuat satu opini cepat menyebar dan berdampak viral. Metode ini juga yang popular dalam menyampaikan pesan-pesan politik sebagaimana  halnya word of mouth dalam kegiatan marketing atau publikasi yang kini popular disebut buzz atau buzzing. Buzz secara etimologi berarti dengungan/ berdengung.  Artikata.com memaknai buzz sebagai dengungan atau membicarakan desas desus, sementara buzzing dimaknai sebagai suara getaran cepat secara terus menerus didengungkan, bersenandung suara seperti lebah atau seperti percakapan umum dalam nada rendah, atau ekspresi umum kejutan atau persetujuan. Buzzer sendiri, meminjam istilah dari Twitter, adalah pengguna media sosial yang dapat memberikan pengaruh pada orang lain dengan menyebarkan tulisan (dengungan) (https://www.maxmanroe.com). Buzzer bertugas untuk merekonstruksi satu gagasan hingga mampu mendominasi percakapan masyarakat virtual. Jika satu orang melakukan buzz kemudian di buzz ulang (sharing/ retwit) oleh anggota dalam jaringan yang memiliki tujuan sama untuk saling menyebarkan buzz, maka akan berefek viral jika didengungkan dalam nada yang rapi dan bergerak secara pasti. Dengungan ini diawali dari main buzz spot (kelompok utama), ke main buzz point (target) dengan perantaraan ruang virtual.

Buzzing ideologis : merekonstruksi viral ideologis

Masyarakat maya (netizen) adalah masyarakat yang terhubung secara rasional ataupun emosional. Mereka bisa menciptakan satu gagasan melalui status, dan pada saat bersamaan turut memviralkan satu gagasan, dengan kata lain menciptakan dan berbagi konten (update and share). Komunitas dalam satu kelompok dengungan, memungkinkan anggotanya untuk menghasilkan, mengontrol, mengkritik, meningkatkan percakapan, berinteraksi, dan saling buzz dalam satu konten yang telah disepakati.

Melirik gempita medsos yang saat ini kebanyakan dipakai sebagai hiburan semata, maka dibutuhkan satu pola bagaimana memenangkan opini berkonten ideologis, tanpa melupakan adab interaksi. Dakwah membutuhkan kreatifitas, dan mengikuti pola masyarakat yang dinamis. Hanya saja patut difahami bahwa komunikasi dalam ruang virtual mengikuti karakter virtualitas yang bersifat egalitarian, dimana di dalamnya setiap orang mempunyai hak yang sama dalam mengekspresikan opini, menetapkan pilihan (like, unlike) dan menuangkan aspirasi politiknya tanpa ada yang membatasi.

Keterbukaan ini sebetulnya mengandung paradoks yang menunjukkan ketidakpastiannya. Untuk itu harus difahami bahwa medsos adalah medium yang berfungsi untuk menyampaikan pemikiran Islam (dakwah), dengan penyampaian yang bersifat membekas. Dengan keterbukaannya, setiap pengemban dakwah berpeluang menjadikan media sosial sebagai mimbar digital dalam rangka memenangkan pertarungan pemikiran melawan sekulerisasi digital.

Setiap pengemban dakwah harus senantiasa menawarkan pemikirannya dalam upaya mengurai probematika umat. Disinilah urgennya menciptakan gelombang dengungan (buzzing) ideologis yang merupakan pancaran pemikiran politik. Tak mencukupkan diri pada dunia virtual, seorang Buzzer ideologis harus memahami bahwa ada keterikatan antara ruang publik dan media digital dalam dimensi pergerakan sosial. Keduanya saling menjembatani masyarakat untuk berinteraksi dalam memunculkan wacana. Lantas, Bagaimana kita membingkai konsep mengenai relasi antar ruang urban dan digital dalam kaitannya dengan gerakan ideologis?

Belajar dari Kebangkitan dunia arab atau arab spring, gelombang revolusi dan unjuk rasa serta protes yang terjadi di dunia arab Sejak 2010, sedikit banyak diinisiasi melalui dunia maya oleh para revolusioner muda. Revolusi di Tunisia dan Mesir, perang saudara di Libya, Pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah, dan Yaman, protes besar di aljazair, Irak, Yordania,Maroko dan Oman serta beberapa protes yang terjadi di Mauritania, Sudan, dan sahara barat, serta Kerusuhan di perbatasan Israel pada bulan mei 2011, Sebagian besar menggunakan teknik pemberontakan sipil dalam kampanye yang melibatkan demonstrasi, pawai, dan tentu saja pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, You Tube, dan Skype untuk mengorganisir, berkomunikasi, dan meningkatkan kesadaran terhadap usaha-usaha penekanan dan penyensoran internet oleh pemerintah. Dari sini terlihat bahwa dunia digital memiliki peran untuk menjembatani pergerakan dalam realitas spasial. Untuk itu, suatu gerakan harus mampu melampaui ruang digital dengan terus menerus melakukan interaksi dengan masyarakat. Seraya tetap bergerak menyasar lini masa dengan pemikiran ideologis dengan gaya komunikasi yang melekat pada media sosial itu sendiri.

Dunia virtual bukanlah ruang bebas tanpa nilai. Seluruh aktivitas kita akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana interaksi dalam realitas spasial, seperti itu pula yang terjadi di dunia virtual. Hanya saja, dunia virtual adalah dunia yang sebagian besar interaksinya diiringi fitur dan perlengkapan audio visual lainnya. Meski demikian, adab tetaplah menjadi perkara urgen dalam menginteraksikan pemikiran ideologis. Terkadang, seseorang terjebak dalam debat kusir, terperangkap dalam jebakan hater hingga melumpuhkan rasionalitas, bahkan teralihkan fokusnya terhadap umat. Seorang mufakkkir siyasi (pemikir politis), tak boleh terjebak dalam kondisi demikian. Tak boleh reaktif. Ia harus fokus, berusaha memahami problem umat, menelaah konstelasi politik internasional, dan memahami manuver politik yang dilancarkan kaum kuffar. Ketinggian pemikiran yang diembannya, akan senantiasa menuntunnya dalam melakukan percakapan virtual, hingga membentuk formasi buzzing ideologis yang kuat dan berpengaruh.

Wallaahu a’lam.