photo_2017-06-13_06-04-41

Oleh : Ayu Paranitha
Aktivis Gerakan Muslimah Negarawan

Dalam salah satu scene film Crisis diceritakan kemunculan sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Heisei Restoration Army (HRA). HRA ini muncul lalu mengancam politisi dan birokrat korup dalam pemerintahan. Kemunculan mereka diawali dengan menyabotase website milik pemerintah dengan mengirim peringatan di laman web yang isinya:

“We declare war on all of the lying and thieving politicians and bureaucrats.”
“And this battle is never going to end as long as at least one of us remains standing.”

dan pasca ultimatum itu mulailah HRA bekerja dengan menyebar teror pada politikus dan birokrat busuk dalam pemerintahan. Diawali dengan menyerang anak politisi yang sering melakukan tindakan kriminal tetapi selalu bebas karena sokongan dari ayahnya yang memiliki kekuasaan, selanjutnya mereka membunuh salah seorang politisi yang terlibat kasus korupsi di depan banyak wartawan yang sedang memburu berita. Mereka secara terang-terangan merealisasikan apa yang mereka ancamkan. Poin saya mengutip salah satu scene dari film ini adalah perbincangan dari tim investigasi ini tentang latar belakang kemunculan HRA

Looks like the Restoration Army started in a reform school.
Or…Maybe our three guys (pelaku teror-red) were just instigated by someone else.

How so?

That’s how foreign terrorist organizations operate.
Their leaders have themselves imprisoned on purpose…
so they can actively recruit new people in there.
With the right words, it’s fairly ease to make pawns out of…
people who cannot adapt to society, people full of anger.
Those juveniles in reform schools are the perfect age.
It should be easy to brainwash them with some beautiful and inspiring words.

What are some of those beautiful words?

“Change the society’s rotten system.”
“Reform this disparate society.”
“Don’t be a slave of capitalism.”

Anak muda itu (katanya) ada di masa-masa pencarian idealisme, lalu ketika mereka berada di tengah realita kehidupan yang buruk dan mereka disodori dengan sebuah konsep perubahan untuk mengubah keadaan masyarakat yang semakin membusuk tentu saja mudah bagi mereka untuk menjadi korban “cuci otak” lalu dijadikan pion bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Apalagi jika doktrin perubahan itu bersumber dari kalam ilahi. Memang tidak bisa dinafikan bahwa agama adalah faktor pendorong yang sangat kuat hingga bisa membuat seseorang berani merealisasikan sesuatu yang disebut-sebut berada diluar nalar manusia awam.

Saya jadi teringat dengan kedatangan Pak Kapolri ke kampus ITB menyampaikan kuliah umum (link videonya bisa dilihat di channel YouTube ITB official), Pak Kapolri bercerita (ini yg masi saya inget ya) dari hasil wawancara ke (ribuan kalau ga salah) narapidana yang terlibat dengan kasus terorisme terdapat kesamaan pola pikir, yaitu orang kafir itu halal darahnya, ada konsep kafir dzimmi dan kafir harbi, nah aparat kepolisian itu termasuk kalangan kafir harbi sehingga halal untuk dibunuh, mereka diliputi oleh semangat jihad, menegakkan negara Islam. Apa yang disampaikan Pak Kapolri menurut saya jadi hal yang menarik. Kenapa? Karena apa yang disebut-sebut oleh Pak Kapolri ini nampaknya menjadi ketakutan umum yang merebak di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita telaah apa yang disampaikan oleh Pak Kapolri, perihal kafir dzimmi, kafir harbi, daulah, jihad memang ada dalam literatur Islam, tetapi tentu saja kita tidak boleh melepaskan konteksnya. Saya ambil satu contoh, untuk masalah jihad (perang) tentu saja ada aturannya yaitu dilakukan di bawah perintah kepala negara atau dalam Islam disebut dengan Khalifah. Akan tetapi, yang saya lihat dari kedatangan pak Kapolri ke kampus, seolah-olah menggambarkan bahwa saat ini paham-paham yang keliru terkait dengan ajaran Islam itu tumbuh subur di kampus. Benih-benih terorisme itu ditanam di kampus. Tapi, alih-alih memberikan pemahaman yang benar tentang Islam, yang dilakukan pak kapolri justru seolah menebarkan propaganda permusuhan kepada para pengemban dakwah Islam.

Kenapa saya katakan demikian? Karena settingan waktu dari rangkaian peristiwa yang teramati saling terkait satu sama lain. Setelah rangkaian sosialisasi anti radikalisme di kampus-kampus, menkopolhukam mengumumkan pembubaran salah satu ormas Islam di Indonesia, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), lalu tidak lama berselang salah satu TV swasta dengan acara talkshow nya, Mata Najwa juga mengangkat tema yang senada, “Menangkal yang Radikal”. Judulnya saja yang “Menangkal yang Radikal” tapi isi acaranya fokus membahas HTI. Apa lagi artinya kalau bukan dimaknai sebagai “Menangkal HTI”? Pak Ansya Mbai pun tidak ketinggalan melakukan tuduhan tidak berdasar pada HTI, menyamakan aktivitas HTI dengan aktivitas takfiri (asal mengkafirkan orang lain yang tidak sepemahaman). Acara Aiman di Kompas TV pun tidak ketinggalan menyemarakkan stigmatisasi, kunjungan Aiman ke kantor HTI lalu disandingkan dengan Khilafah ala ISIS. Padahal jika kita membaca kitab-kitab HT yang sangat mudah untuk diakses, HT sangat hati-hati melabeli seseorang dengan label kafir, karena selama pada diri seseorang masih terdapat keimanan sekalipun hanya sebesar atom, selama ia masi mengucapkan syahadat, dia masih dalam keadaan muslim. Apa yang dilakukan HTI adalah dakwah dan semua orang pun tau track record HTI yang bersih dari tindakan anarkis. Pun mengait-ngaitkan HTI dengan ISIS sangatlah tidak masuk akal, yang pertama kali menolak khilafah yang diumumkan oleh ISIS justru adalah HT dan fakta yang lain juga justru ISIS melakukan pembunuh terhadap anggota senior HT.

Sekarang mari kita coba sedikit bahas apa yang sebelumnya disebut oleh pak Kapolri:

  • Jihad: secara syar’i artinya adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung, dengan bantuan keuangan, pandangan (pemikiran), memperbanyak kuantitas (sawad) ataupun yang lain.
    baiat adalah akad perwakilan dan kerelaan antara semua kaum Muslim dan seorang khalifah yang akan menjalankan tugasnya melaksanakan hukum-hukum Allah di tengah-tengah manusia
  • darul islam: negara yang menjadikan sumber hukum islam sebagai sumber kedaulatan serta keamanan negaranya berada di tangan kaum muslim
  • darul kufur: kebalikan dari darul islam
  • kafir dzimmi: orang kafir yang hidup dalam Daulah Islamiyah (mereka adalah orang-orang yang mendapatkan hak sebagaimana warga negara, mereka mendapatkan keamanan untuk menjalankan kepercayaannya)
  • kafir muahad: orang-orang kafir yang negaranya terlibat perjanjian dengan Daulah Islamiyah (negara Islam)
  • kafir harbi: orang kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslim

Sebenarnya hanya membahas istilah di atas saja kita bisa cukup paham kalau Islam itu mengatur masalah tata kenegaraan yang ini sekarang coba dinafikan oleh kebanyakan kita. Nah permasalahannya sekarang ketika kita membahas jihad, perang macam apa yang dimaksud ketika pemimpin kaum muslimnya sendiri tidak ada? dan ketika kita membahas masalah perang, ada banyak adab yang diatur di dalam Islam, apakah ini dipahami oleh kebanyakan kaum muslim? lalu ketika kita berbicara tentang orang kafir saya jadi teringat dialog antara Umar bin Khattab ra dengan seorang peminta-minta yang telah tua dan buta matanya, maka beliau menepuk pundaknya dari belakang, lalu berkata, “Dari ahli kitab yang manakah kamu?” Ia berkata, “Yahudi.” Umar berkata, “Lalu apa yang menyebabkan kamu melakukan seperti yang aku lihat?” Ia menjawab, “(Keharusan membayar) jizyah, kebutuhan, dan usia.” Maka Umar pun menggandeng tangan orang Yahudi tersebut dan dibawanya ke penjaga baitul mal, lalu berkata, “Lihatlah orang ini dan orang-orang yang sepertinya! Demi Allah, kita tidak adil jika kita makan masa mudanya kemudian kita menistakannya ketika telah tua. Sesungguhnya zakat adalah bagi orang-orang fakir dan orang-orang miskin. Dimana orang-orang fakir adalah kaum muslimin, dan orang ini termasuk orang miskin dari ahli kitab.” Lalu beliau menghapus jizyah darinya dan orang-orang yang sepertinya.

Kita terlalu jauh dari pemahaman Islam, lalu ketika ada seorang muslim mulai radikal dengan agamanya maka semua orang tidak bisa melepaskan stigma negatif. Apa yang salah dengan menjadi radikal dalam memahami agama Islam? Coba kita cek kbbi yang akan membahas makna radikal dari segi bahasa: radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;). Coba perhatikan apa yang salah dengan makna radikal? Radikal tidak memiliki nilai terpuji ataupun tercela sampai akhirnya pemerintah rajin kampanye tentang bahayanya berpikir radikal. Ingat dengan kasus mba afi yang sampai menulis status kalau pingin damai “jangan pernah bersuara. Jangan pernah percaya diri untuk tampil berbeda. Jangan bersikap kritis. Jangan berpendapat. Jangan suarakan keresahan kalian. Jangan berpikir macam-macam, apalagi sampai berani mempertanyakan sebuah keadaan yang telah lama tertata” yang hits dibagikan lebih dari 13ribu kali dan dikomentari lebih dari 9ribu komentar (sampai tulisan ini dikerjakan dan mungkin akan terus bertambah). Pemikiran seperti ini apa tidak termasuk radikal? Saya sebenarnya agak khawatir ketika hari ini Islam diadu antara dua kelompok: islam moderat vs islam radikal. Dimuliakan salah satunya lalu yang lainnya diintimidasi. Lalu ditambah dengan pelabelan yang tidak pada tempatnya pula, “Kritis gpp, asal, tempatkan Islam dalam posisi moderat, tampil beda gpp selama ga menganggap Islam yang paling benar, mengeluarkan pendapat apapun boleh selama tidak menjadikan sumber hukum Islam sebagai sumber kebenaran mutlak”.

Ustadz Iwan Januar menggambarkan dengan sangat tepat tentang kondisi yang terjadi di tengah-tengah kita hari ini:

Ketika Amr bin Yassar ra. ditegur oleh kedua orang tuanya (Yassar dan Sumayyah semoga Allah meridloi dua syuhada awal Islam ini), lalu terjadi dialog diantara mereka,
“Kau ikut dengan Muhammad? Ajaran Muhammad itu BERBAHAYA!” tegur sang ayah, Yassir.
“Berbahaya? Apakah mengajarkan yang kaya agar tak menindas yang miskin itu berbahaya? Mengajarkan kita agar tidak membunuh bayi perempuan itu berbahaya?…” jawab Amr.
Kedua orang tuanya terdiam, menyadari bahwa ajaran Islam adalah haq. Mereka pun masuk Islam.
Hari ini, banyak muslim yang justru berpikiran seperti alam jahiliyyah; Islam adalah ajaran berbahaya. Melawan imperialisme itu berbahaya, mencegah liberalisme itu berbahaya, mencegah perzinaan itu berbahaya, menyatukan umat Islam dan melindungi nonmuslim itu berbahaya.
Mereka muslim yang takut dengan agama mereka sendiri, laksana anak kecil yang takut dengan bayangan mereka sendiri.

Pernahkah kita perhatikan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini? serangkaian aksi bela islam, rangkaian safari pak kapolri ke kampus-kampus menangkal radikalisme, intimidasi menristek pada perguruan tinggi terkait radikalisme, pembubaran pengajian-pengajian oleh salah satu ormas, pidato pembubaran HTI oleh pemerintah, serangkaian bom panci, bom di kampung melayu, penyerangan kepolisian di abepura, aksi teror ISIS di filipina (yang terakhir ISIS jg mengaku bertanggung jawab atas pemboman di kampung melayu), peresmian counter-terrorism complex di Arab Saudi (kerjasama 7 benua), saya khawatir pemerintah akan mengambil langkah yang kian represif pada kelompok-kelompok Islam, bahkan tidak hanya Indonesia tapi Asia Tenggara hingga dunia (skenario yang sangat terencana dengan sangat apik).

Ah iya, saya sampai lupa satu hal, dalam kuliah umum pak kapolri juga sebenarnya bercerita bahwa salah satu potensi kekuatan yang akan menjadi superpower ke depan adalah Islam. Oleh karena itu, bukankah upaya kriminalisasi ajaran islam dan pengemban-pengembannya menjadi sesuatu hal yang kontraproduktif?

Di tengah masa yang penuh fitnah seperti saat ini, teringat apa yang menimpa para ashabul kahfi, mereka hanyalah manusia biasa bukan termasuk golongan ulama, tetapi yang mereka miliki hanyalah iman dan mereka berpegang teguh dengannya dan mengerahkan usaha apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan iman mereka. Semoga kita pun dianugerahkan Allah petunjuk dan menguatkan kita tetap istiqamah di dalamnya.

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
(QS. Al-Kahfi: 10)