Bulan lalu saya berdiskusi dengan seorang sister di Australia, dia menceritakan bagaimana tantangan menjadi Muslimah di Barat. Sebagai komunitas yang minoritas, seringkali kelompok seperti l68t pun ikut membela isu yang menimpa Muslim, namun hal ini ternyata berimbas pada tuntutan setiap isu yang menimpa kelompok minoritas harus dibela bersama-sama, sebagai sesama minoritas. Jadi Muslim pun dituntut harus membela hak l68t atau kelompok lainnya. 

Astaghfirullah!
Terpana saya mendengarnya, sampai seperti itu kondisi kehidupan Muslim yang minoritas di negeri orang.

Sesungguhnya pola interaksi antar komunitas marginal seperti ini, sangat problematis, karena mereka mendudukkan Islam sejajar dengan komunitas marginal lainnya. Dalam konteks politik identitas Islam ditempatkan sama kedudukannya dengan ikatan-ikatan lain, bahkan paham yang bertentangan sekalipun. Logika ini tentu keliru, karena sama saja kita menerima Islam dikerdilkan atas nama ikatan solidaritas.

Contoh di atas sebenarnya ingin saya kaitkan dengan isu di tanah air, dimana kampanye kaum Feminis dan larangan cadar sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. “Cadarku Otoritasku” memiliki logika berfikir yang sama dengan kampanye Feminis “Tubuhku Otoritasku”. Akar pemikiran yang satu, yakni HAM dan kebebasan perempuan. Bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya. Membela Muslimah bercadar bukan karena pemahaman Islam, tapi lebih pada kerangka berfikir sekuler feminis. Sama seperti kasus di Australia, Muslim terpaksa membela kelompok kaum sodom hanya karena kerangka berfikir pluralisme dan solidaritas kaum marginal.

Kerangka berfikir seperti ini telah menjebak dan mempermainkan mindset umat Islam, tanpa sadar mereka menerima otoritas pemikiran sekuler dalam menempatkan kedudukan identitas Islam dan kaum Muslimin.

Siapa sebenarnya yang punya otoritas (kewenangan) dalam memberi identitas? Tentu bukan manusia, kelompok, rezim penguasa atau bahkan ide-ide sekuler. Islam menegaskan otoritas itu adalah wahyu Allah Swt, karena itu Islam tidak mengenal ikatan identitas apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Sejak lahirnya risalah Islam dari Rasulullah Saw, umat Islam sudah terbiasa menjadi petarung, dan berakhir sebagai pemenang, karena seperti hadits nabi, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Dalam beridentitas kaum Muslim perlu sadar sepenuhnya gelarnya sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang punya posisi tinggi. Maka waspadalah jika ada pembelaan datang dari kelompok non Muslim atau kelompok yang bangga dengan Identitas sekulernya; Mungkin mereka tidak hanya sedang membela hakmu, tapi juga sedang mengaburkan identitasmu sebagai umat terbaik, waspadalah!

Ukhtukum,
Fika Komara